unconsciousconsciousincompetencecompetence

Bingung sama judul diatas? Heheheā€¦ maap ya šŸ˜› abis bingung mau ngasih judul apa. Balik lagi soal yang berkaitan dengan knowledge management (KM), di dalam ilmu psikologi dikenal empat tahapan kompetensi yang pertama kali diperkenalkan oleh Noel Burch (1970) dari Gordon Training International sebagai “Four Stages for Learning Any New Skill” (malah sekarang udah jadi lima tahap, ditambah dengan mindful competence, tapi ngga akan saya bahas). Dari empat tahapan ini menunjukkan bahwa individu-individu yang awalnya tidak sadar akan ketidakmampuan mereka. Ketika mereka menyadari ketidakmampuan mereka, mereka sadar dan berusaha untuk memperoleh keahlian itu , maka secara sadar menggunakan keterampilan itu. Akhirnya, keterampilan tersebut dapat dilakukan tanpa disadari.

Seperti halnya minggu lalu, untuk mempermudah penjelasannya, kali ini saya juga akan mengutip salah satu email yang pernah dikirimkan oleh sahabat saya Bapak Priagung Rahsilahputera, semoga bermanfaat!

Prinsip unconscious-conscious incompetence-competence itu biasanya dipakai untuk menjelaskan tahapan seseorang (atau organisasi) dalam mempelajari sebuah hal baru. Dengan mengambil logika “orang yang belajar mengemudi mobil”, maka tahapannya adalah sebagai berikut:

  1. Unconscious Incompetence (secara tidak sadar kita tidak bisa): Mengemudi mobil bukan hal penting untuk kita. Kita tidak peduli. Toh ada ojek, busway, atau taxi. Kalau perlu naik mobil toh ada driver.

  2. Conscious Incompetence (secara sadar kita tidak bisa): Disini kita mulai menyadari pentingnya bisa nyupir (misalnya tiba-tiba dikasih mobil baru!). Kita sadar bahwa kita harus bisa nyupir, tapi belum bisa. Karena itu kita kursus nyupir mobil. maju-mundur, tanjakan, ndut-ndutan… lalu mesin mobil mati! OMG!

  3. Conscious Competence (secara sadar kita bisa): Hore bisa nyupir mobil! Tapi karena masih “hijau”, ya, duduknya tegak dan jok kursi dimajuin sampai mentok. Pokoknya sudut-sudut mobil musti selalu dipelototin. Kalau parkir musti maju-mundur beberapa kali, sampai diklaksonin mobil yang ngantri dibelakang.

  4. Unconscious Competence (secara tidak sadar, kita bisa): Biasanya nyupirnya udah gaya pakai kaca mata hitam, trus joknya dimundurin supaya duduknya selonjor. Pak polisi sampai celingak-celinguk, ini mobil supirnya ada gak sih? Gak usah ditanya lagi, mau ngebut di Tol Cipularang ataupun pepet-pepetan lawan bajaj di gang sempit juga dijabanin!

Advertisements

Apa aja yang kita butuhin klo mau bikin KM?

Masih seputar Knowledge Management (KM), mudah-mudahan colleagues ngga bosen ya šŸ˜› Kali ini saya mau ngajak colleagues buat memahami langkah awal apa aja sih yang dibutuhin buat ngebangun KM. Pertama-tama ada 3 komponen utama yang harus dipenuhi. People, kita identifikasi dulu orang-orangnya siapa aja, kira-kira bisa ngga diajak untuk sharing knowledge. Process, proses yang mau dipake seperti apa? Apa colleagues mau pake modelnya Nonaka & Takeuchi atau yang lain? Terakhir adalah Technology, maksudnya teknologi apa yang mau dipake untuk capture knowledge maupun sharing knowledge. Misalnya bikin database, adanya fasilitas buat sharing seperti ruang meeting dan perlengkapannya, media komunikasi seperti teleconference, atau untuk distribusi knowledgenya? misalnya via email, etc. Ga perlu teknologi yang canggih-canggih, yang penting applicable buat colleagues terapin.

KM juga bisa dimulai dari Business Issue yang lagi hot di tempat colleagues semua. Berikut flow yang saya kutip dari Pak Pungki Purnadi:

Selain itu, kita juga harus pahami barrier apa aja yang bakal muncul klo kita mau nerapin KM di tempat kerja kita. Barrier itu bisa macam-macam, bisa dari teknologi, proses bisnis di lingkungan kerja kita, ato bahkan dari behavior orang-orang yang ada di tempat kerja colleagues semua. Masing-masing butuh pendekatan yang berbeda-beda. Tapi 1 hal yang sama, untuk ngatasin semua barrier itu butuh pemikiran yang open mind, komitmen, dan model kepemimpinan yang walk the talk dari manajemen. Selamat berhari Sabtu!

Knowledge Spiral Model? Apalagi nih?

In an economy where the only certainty is uncertainty, the one sure source of lasting competitive advantage is knowledge. I. Nonaka (1995)

Pagi Colleagues! Sambil nemenin colleagues sarapan, saya lanjut bahas Knowledge Management (KM) lagi ya. Saya mau bahas sedikit tentang Knowledge Spiral Modelnya Ikujiro Nonaka & Hirotaka Takeuchi. Teori ini cukup klasik tapi long lasting, sampai sekarang masih banyak dipake. Komponen utama dari teori ini sebenernya cuma dua: Tacit Knowledge, yaitu pengetahuan yang ada di dalam diri masing-masing orang; dan Explicit Knowledge, pengetahuan yang didokumentasikan (tulisan/rekaman). Pengetahuan ini bisa macem-macem, ga harus melulu soal teknis. Jadi colleagues ga perlu takut untuk berbagi. Jangan takut dibilang bodoh cuma lantaran ternyata pengetahuan kita masih lebih rendah dari orang lain, karena belum tentu secara detail pemahamannya sama. Mekanisme Knowledge Spiral Model ini konsepnya gampang banget, cuma ngumpulin tacit knowledge masing-masing orang, diconvert jadi explicit knowledge dengan cara disebarkan dan didokumentasikan supaya bisa diserap dan menjadi tacit knowledge baru buat orang lain. Begitu seterusnya. Proses ini terus berulang-ulang, jadi pengetahuan itu akan terus berkembang.

Secara lebih detail, tahapannya dibagi jadi empat:

  1. Sosialisasi. Ini tahapan yang paling awal, dimana tacit knowledge disosialisasikan, misalnya dengan sharing sesama rekan kerja satu divisi. Bisa dibilang disini prosesnya tacit-to-tacit.
  2. Eksternalisasi. Berikutnya, tacit knowledge ini didokumentasikan. Misalnya dibuat dalam bentuk tulisan, macem blog ini misalnya. Supaya bisa dibaca & dipahami orang banyak. Disini prosesnya tacit-to-explicit.
  3. Kombinasi. Tahap ketiga, explicit knowledge ini dikombinasikan dengan explicit knowledge yang lain. Sehingga explicit knowledge itu jadi makin sempurna. Misalnya colleagues punya satu konsep pemikiran, terus rekan kerja colleagues juga punya satu konsep pemikiran yang sejenis tapi beda pendekatan. Kemudian dua pemikiran ini disatukan untuk disempurnakan, supaya jadi satu konsep yang lebih matang. Proses ini explicit-to-explicit.
  4. Yang terakhir adalah Internalisasi. Maksud internalisasi disini explicit knowledge yang udah disempurnakan dari proses kombinasi tadi dipahami lagi oleh masing-masing orang supaya jadi tacit knowledge mereka masing-masing. Makanya proses ini disebut explicit-to-tacit.

Gimana colleagues? Gampang kan? Udah siap buat nerapin KM di tempat kerjanya masing-masing?

Sedikit tentang Knowledge Management

Good morning Colleagues! Salah satu scope yang paling saya suka dari dunia human resources adalah Knowledge Management (KM). Sebenernya ini barang lama, dulu di kantor saya yang lama bahkan udah diterapkan sejak 2007. Tapi buat saya konsep KM ini sangat menarik. Konsepnya sederhana, tapi impactnya luar biasa. Dengan adanya KM di sebuah perusahaan menunjukkan kalau perusahaan tersebut ngga lagi memperlakukan karyawan hanya sebatas sebagai pekerja/sumber daya, tapi karyawan adalah sumber energi yang menggerakkan perusahaan.

Berikut salah satu deskripsi KM dari Chris Collison yang saya kutip dari bukunya “Learning to Fly”:

Knowledge Management is about capturing, creating, distilling, sharing, and using know-how. It is more than what’s written down.

Salah satu konsep KM yang paling terkenal adalah konsep The Knowledge Spiral Model-nya Nonaka dan Takeuchi (nanti di artikel terpisah aja ya).

Fungsi utama penerapan KM adalah menciptakan lingkungan yang mendorong karyawan untuk terus belajar terhadap hal-hal baru serta bersedia berbagi pengetahuan dan keahlian dengan sesama karyawan. Jadi ngga melulu disumpel sama training. Dengan adanya KM cost untuk training bisa ditekan.