Perpanjang SIM sekarang musti tes ulang?

Sorry klo saya ketinggalan berita. Kebetulan kemaren STNK udah mo abis, jadi cari-cari informasi Gerai SAMSAT di TMCMetro. Eh malah nemu berita ini. Ternyata mulai tahun ini (entah mulai kapan akan diberlakukan) klo mau perpanjang SIM harus ikut tes ulang. Katanya sih karena masih tingginya angka kecelakaan lalu lintas. Tesnya ada tiga colleagues, tes teori, simulator, sama praktek. Persis kaya’ waktu pertama kali bikin SIM. Cuma, klo pada saat perpanjangan SIMnya belum habis masa cukup ikut tes simulator aja. Tapi klo saat perpanjangan udah keburu habis masa harus ikut tes tiga-tiganya.

Perpanjang SIM

Saya sih apresiasi banget usaha POLRI buat yang satu ini. Soalnya sekarang ini pelanggaran lalu lintas udah jadi pembiasaan dan pembiaran. Tapi belum kebayang aja mekanismenya seperti apa, apa POLRI mau nyiapin simulator & trek segitu banyak terutama di gerai-gerai & SIM keliling? Ato malah klo udah habis masa ngga bisa lagi perpanjang di gerai & SIM keliling? Mudah-mudahan pengadaannya jangan diobyekin & tesnya jangan dicalo’in ya Pak Pol! 😀

So buat colleagues yang mau perpanjang SIM sebaiknya jangan sampe habis masa klo ngga mau ikut tes tiga-tiganya. Kebetulan SIM saya udah diperpanjang tahun lalu, jadi aman deh. Buat info apa aja yang diperluin buat perpanjang SIM udah pernah saya ulas sebelumnya disini.

Sumber

Apa fungsi BATNA dalam negosiasi?

Happy Friday Colleagues! Sering kali kita dihadapkan pada situasi dimana kita harus bernegosiasi untuk mencari kesepakatan. Negosiasi bisa terjadi dalam banyak hal, misalnya negosiasi gaji saat rekrutmen, atau negosiasi dengan Serikat Pekerja (SP). Secara terminologi, negosiasi adalah sebagai berikut:

Negosiasi adalah suatu proses komunikasi antara dua orang atau lebih di mana kedua pihak mempertimbangkan alternatif untuk mencapai solusi yang disepakati bersama yang bermanfaat bagi para pihak (CHRP Atma Jaya, 2013).

Di dalam negosiasi ada 4 elemen kunci, yaitu:

  • BATNA (best alternative to a negotiated agreement)
  • Reservation price
  • ZOPA (zone of possible agreement)
  • Value creation through trades

Saya akan bahas sedikit soal BATNA. Fungsi dari BATNA adalah mencari alternatif terbaik terhadap suatu kesepakatan. Jadi sebelum bernegosiasi kita harus tahu dulu BATNA kita apa, maksudnya kita harus tahu apa yang perlu kita lakukan, dan konsekuensinya apa bila gagal mencapai kesepakatan.

Apabila kita akan bernegosiasi, kita harus mampu untuk menganalisis BATNA kita sendiri dan perkiraan BATNA pihak lawan secara realistis/ mendekati akurat. Kalau kita tidak mampu menganalisa BATNA dengan baik, maka bisa berdampak pada kekalahan negosiasi atau kegagalan dalam mencapai kesepakatan.

Apa yang perlu ditulis di Cover Letter

Morning colleagues! Klo kita udah punya diri kita sendiri untuk dijual, and kita udah punya CV sebagai packaging yang bagus, selanjutnya yang ngga kalah penting adalah Cover Letter. Bisa dibilang Cover Letter ini adalah advertisingnya. Klo produk & kemasannya bagus tapi marketingnya buruk ya ngga bakal laku juga. So… kali ini saya mau bahas sedikit apa aja sih yang harus ditulis di dalam Cover Letter?

  1. Kita harus sebutkan dari mana kita dapet info lowongan tersebut. Karena ini menyangkut dengan image dari perusahaan itu sendiri. Seberapa dalam colleagues mengenal perusahaan tersebut.
  2. Kompetensi apa yang kita punya yang unik buat perusahaan. Artinya kompetensi apa yang kira-kira bisa jadi selling point kita yang inline dengan values mereka.
  3. Colleagues harus bisa ngeyakinin klo colleagues adalah kandidat terbaik yang mereka cari.
  4. Experience apa aja yang inline dengan posisi yang colleagues lamar.
  5. Apa achievement/success story yang bisa colleagues ceritakan selama pekerjaan sebelumnya.
  6. Aktifitas apa aja yang suka colleagues lakukan di luar pekerjaan. Tunjukkan klo colleagues orang yang aktif yang juga punya aktifitas lain di luar pekerjaan. Tentunya yang positif, dan jangan boong/dibuat-buat.
  7. Ceritakan tentang kualifikasi yang colleagues punya (karakter, pendidikan, kompetensi, relevant working experience) yang inline dengan value perusahaan dan spesifikasi jobnya. Misalnya: I have studied Accounting at the Kalang Kabut University for 4 (four) years and it has sharpened my talents. As you will see from my resume, I have spent four years as Accounting Staff in PT Carut Marut in Jakarta.
  8. Yang terakhir, tuliskan ekspektasi colleagues akan proses selanjutnya. Misalnya: I would be pleased to discuss about my qualification and working experiences in detail during the interview. If you have any question, please do not hesitate to call me. Thank you for considering my application.

Untuk sistematika penulisannya bisa colleagues sesuaikan dengan format CV colleagues, atau colleagues kemas sendiri sesuai dengan yang colleagues inginkan. Nah, sekarang udah lengkap kan? Udah punya CV yang ok, Cover Letternya juga udah ada. So… udah siap pindah kerja? Hehehe…

Kesalahan yang sering terjadi dalam menulis CV

Selamat pagi Colleagues! Kemarin kita udah coba identifikasi apa aja sih komponen di dalam sebuah CV. Sering kali kita udah bikin CV panjang lebar tapi ujung-ujungnya ngga informatif atau ngga menarik minat orang yang ngebacanya. Kali ini saya mau jelasin kesalahan apa aja yang sering terjadi di dalam menulis CV.

An autobiography CV. CV jangan seperti daftar riwayat hidup. Di CV kita perlu mengekspose apa yang jadi keunggulan kompetitif kita.

A low profile CV. Kadang kita ngga tau/yakin apa daya jual kita. Jadinya CV kita malah ngga pede. Pede aja, yakin aja klo kita bisa.

A winding CV. CV yang berliku ngga menarik untuk dibaca. Biasanya yang sering terjadi di pengalaman kerja & pendidikan. Urutan penulisan harus dari yang terbaru hingga yang paling lama. Bahasa CV juga jangan njelimet.

A grammatical error CV. Nah ini yang paling sering terjadi klo CVnya pake bahasa asing. Paling ngga klo memang mau nulis CV pake bahasa asing tapi kita ngga pede (walaupun udah pake autocorrect), sebaiknya minta cek sama orang lain yang lebih ahli.

Nah, segitu aja colleagues soal CV. Monggo dicek lagi, apa CVnya udah bener?

Sudah oke kah CV kita?

Colleagues, kadang kita suka lihat di Google banyak banget desain CV yang keren-keren. Tapi ketika kita mau buat CV seperti itu malah jadi kurang pede, takut dibilang norak lah, takut employernya ngga suka lah, dsb. Pada akhirnya CV yang kita buat ujung-ujungnya malah yang standar-standar juga. Sebenernya desain CV ngga perlu bagus-bagus amat (kecuali colleagues emang kerja di industri kreatif), tapi isinya harus tepat sasaran. Untuk itu ada beberapa yang perlu colleagues ketahui:

  • CV ini ditujukan ke siapa? HR kah? Atau mungkin ke Usernya langsung?
  • Klo ditujukannya ke HR, colleagues paling ngga harus mencantumkan profil colleagues secara lengkap, serta value dan kompetensi yang dimiliki.
  • Klo ditujukannya ke user, colleagues harus lebih banyak menonjolkan dari sisi technical competencies yang colleagues punya yang inline dengan job yang mau dilamar.
  • Setelah itu baru bagaimana caranya supaya colleagues bisa mempresentasikan diri sebaik mungkin di dalam CV itu.

Sebenernya bikin CV yang ok itu gampang kok, CV itu cuma terdiri dari 4 komponen utama: Informasi pribadi, Latar belakang pendidikan, Pengalaman kerja, dan Informasi tambahan lainnya. Biar lebih jelas, berikut contoh komponennya:

Informasi Pribadi.

  1. Nama (di halaman depan)
  2. Tanggal lahir (di halaman depan)
  3. Alamat (di halaman belakang)
  4. Status nikah (di halaman belakang)
  5. Nomor telepon yang bisa dihubungi (di halaman belakang)
  6. Foto
  7. Jenis kelamin
  8. Personal Profile (karakternya seperti apa)

Latar belakang pendidikan. Kalau latar belakang pendidikan sekurang-kurangnya harus mencantumkan Tingkat pendidikan, Tahun lulus, Universitas, Fakultas/Jurusan. Klo mau lebih lengkap lagi (klo pede :D) bisa ditambahin sama GPA/IPK dan judul tesis/skripsi yang waktu itu dikerjain.

Bachelor Degree – 2010

Kalang Kabut University, Jakarta, Indonesia

Major : Accounting

Pengalaman kerja.

  1. Ngga perlu mencantumkan tanggal mulai & berakhir kerja, cukup bulan dan tahun aja
  2. Mencantumkan posisi
  3. Reporting structure posisi itu seperti apa
  4. Tugas dan wewenangnya apa aja
  5. Kompetensi yang dimiliki/dibutuhkan untuk posisi itu apa aja
  6. Achievement yang pernah dicapai di posisi itu apa aja, atau KPInya apa

Klo seandainya colleagues fresh graduates, colleagues bisa mencantumkan ide-ide apa aja yang colleagues miliki terkait dengan job yang mau dilamar (kan biasanya klo masih fresh graduates masih idealis banget tuh).

Informasi tambahan lainnya.

  1. Achievement yang pernah dicapai di luar pekerjaan
  2. Pendidikan tambahan/kursus/training
  3. Pengalaman kerja tambahan
  4. Informasi tambahan lainnya (kemampuan bahasa, kompetensi lain yang dimiliki, referensi, dll).

Apa aja sih elemen dari Total Compensation?

Good morning Colleagues! Udah siap beraktifitas? Gimana weekendnya kemarin? Mudah-mudahan ngga bikin “I hate Monday” ya! Terus terang agak bingung hari mau nulis apa, soalnya hari Senin. Klo terlalu berat juga ga asik. Jadi yang ringan-ringan aja ya, mudah-mudahan ngga jadi basi. Kali ini saya cuma mau nulis soal Total Compensation. Apa sih Total Compensation itu?

Total Compensation looks at all the cash programs, all the non-cash programs, and all the deferred compensation and benefit programs offered by an organization to its employees.

Intinya elemen dari Total Compensation itu ada 3:

  • Direct Compensation, yaitu kompensasi yang berupa uang;
  • Indirect Compensation, yaitu kompensasi yang bukan berupa uang;
  • dan Deffered Compensation, yaitu kompensasi yang berupa uang namun ditahan untuk diberikan di kemudian hari.

Untuk lebih jelasnya, kurang lebih contohnya seperti di gambar di bawah ini.

Nah, kira-kira apa aja komponen dari Total Compensation yang ada di tempat kerja colleagues semua?

Performance, Competency, dan Performance Management

Good morning Colleagues! Gimana plan untuk hari Minggu ini? Ada rencana mau pergi kemana? Mumpung masih pagi sembari sarapan sebelum memulai aktifitas lainnya, saya mau sharing tentang performance, kompetensi, dan performance management. Kali ini saya mau mengutip tulisan milik teman sekelas saya waktu di Atma Jaya, Bapak Priagung Rahsilahputera (ijin share ya bos :D). Beliau sering memberikan logika sederhana dari ilmu-ilmu di dunia HR yang lagi dipelajari supaya lebih mudah dicerna. Mudah-mudahan bermanfaat!

Ada yang masih bingung dengan istilah “performance”, “competency”, dan “performance management”?

Ibarat seorang tentara, sebut saja si Rambu, terbukti jago saat latihan. Berhasil menembak 10 sasaran dengan tepat, bisa lempar granat jauh-jauh, bisa merayap tanpa ketahuan, menguasai teknik bela diri dengan pisau maupun tangan kosong, kita katakan si Rambu ini “memiliki kompetensi”. Apakah nanti saat diterjunkan ke medan perang dia juga jago? Rambu memiliki POTENSI tinggi untuk jadi jagoan perang beberapa tahun kedepan. Tapi belum tentu!

Berbeda dengan si RAMBO. Dia jagoan perang beneran. Tahun lalu berhasil membunuh banyak musuh, tidak peduli bagaimanapun caranya. Kita katakan RAMBO “memiliki kinerja” yang baik. Apakah si RAMBO ini juga “memiliki kompetensi” yang baik? Belum tentu! Buktinya waktu perang dia gak pernah lempar granat, tapi malah pakai panah. Jago menyusup, tapi toh selalu ketangkep juga oleh musuhnya. Gak pernah pakai rompi anti peluru, tapi hoki banget gak pernah kesamber peluru. Tapi di akhir film, selalu dia jadi pemenang perang. Jadi orang yang “memiliki kompetensi” seperti Rambu belum tentu “memiliki performance” yang baik seperti RAMBO. Begitu juga sebaliknya.

Lalu bagaimana dengan “Performance Management”?

Nah coba rentangkan kedua tangan Anda, tangan kiri lurus ke kiri dan tangan kanan lurus ke kanan. Sekarang kita namakan telapak tangan kiri sebagai “kompetensi Rambu” dan telapak tangan kanan sebagai “performance RAMBO”. PERFORMANCE Mangement itu selalu memperhitungkan 2 aspek yaitu “performance” dan “kompetensi” sekaligus. Bedanya pada Performance Appraisals:

  • Ada perusahaan/jabatan yang menghitung performance 100% dan kompetensi 0%. Pokoknya “hasil” atau “angka”! Contohnya performance appraisals untuk jabatan Sales. Perusahaan ini pasti doyan dengan istilah “Key PERFORMANCE Indicators”
  • Ada juga perusahaan/jabatan yang menghitung performance 100% dan kompetensi 100%. Contohnya PA untuk jabatan Staff Akuntansi dan sekertaris. Perusahaan ini pasti bangga dengan istilah “Competency Based HR Management”.
  • Tapi ada juga perusahaan/jabatan yang pilih tengah-tengah. Misalnya bobot Performance 20%, Competeny 80%. Atau 30-70, atau 50-50, atau 70-30, atau 80-20, dst. Karena menghitung keduanya (walaupun dengan bobot yang berbeda). Perusahaan ini pasti menggunakan nama “Performance Management”.

Sekali lagi, diharapkan orang yang memiliki “Kompetensi Rambu” (tangan kiri) maka akan memiliki “Performance RAMBO” (tangan kanan). Karena itu Performance Management memperhitungkan keduanya: performance 12 bulan terakhir, plus potensi beberapa tahun ke depan.