Cinta untuk Papa & Mama

Di penghujung tahun, sekaligus menjadi postingan terakhir saya di tahun 2011 ini, saya ingin cerita yang sedikit OOT dari perotomotif & permusikan. Kali ini saya mau cerita tentang sosok kedua orang yang paling saya sayang & paling saya banggakan, yaitu papa & mama saya. Walaupun hari Ibu udah udah lewat, tapi ngga apa-apa. Itung-itung sebagai bahan renungan di penghujung tahun sebelum tutup buku & memulai buku baru. Toh, menyayangi orang tua ga harus di hari Ibu aja kan?

Papa

Papa adalah sosok yang agamis, keras, kolot, & idealis. Papa sangat memegang teguh nilai-nilai yang dianggapnya benar. Ngga jarang kami berselisih paham soal idealisme masing-masing. Mungkin sifat ini yang diturunkan papa ke saya. Tapi papa juga sosok yang demokratis. Walaupun kami sering berbeda pendapat, tapi papa ngga pernah memaksakan pendapatnya kepada saya. Saya selalu dibiarkan mengikuti hal yang saya yakini. Dengan harapan, suatu saat nanti saya pasti akan mengerti apa yang papa maksud.

Sebagai kepala keluarga, papa adalah sosok yang sangat keras. Terutama soal agama. Ampun-ampunan deh klo yang ini. Jujur saya sendiri keteteran, karena papa adalah orang yang taat. Bahkan klo boleh saya mengutip materi Stand Upnya Pandji, saya bakal bilang: “Ngga pernah muda sob! :mrgreen:”. Apalagi saya & pasangan berbeda keyakinan. Makin seru aja nih jadinya.

Sebagai seorang Bapak, papa selalu menanamkan nilai-nilai kesederhanaan kepada anak-anaknya. Tidak ada satupun anak-anaknya yang pernah merayakan ulang tahun secara meriah. Papa selalu bilang “Ngga ada ulang tahun-ulang tahunan“. Papa mengajarkan untuk segan dalam meminta. Jadi kalau kami anak-anaknya pengen sesuatu, kami selalu bilang “Pa… Klo papa nanti punya uang, aku mau ya dibeliin ini“. Secara tidak langsung, kebiasaan ini memupuk kebiasaan untuk menabung jika menginginkan sesuatu. Bahkan sejak SD, saya sudah dikasih uang jajan mingguan, bukan harian. Supaya saya bisa kelola sendiri uang saya. Malah sejak SMA sudah terima bulanan. Walaupun terasa begitu berat klo uangnya sudah habis di pertengahan bulan, karena saya segan untuk meminta.

Papa menghabiskan karirnya bekerja di sebuah perusahaan air minum milik pemerintah yang pada akhirnya diswastanisasi ke Perancis. Papa memegang peranan yang cukup penting di bagian keuangan. Sebagai seorang karyawan, papa benar-benar menjadi sosok yang memiliki integritas AMAT SANGAT TINGGI. Klo boleh saya kategorikan, termasuk Class A: Master Grade. Papa sangat memegang nilai kejujuran. Bahkan papa pernah terancam dipecat karena tidak mau mengeluarkan uang “pelicin”. Tapi tampaknya Tuhan berkata lain.

Satu hal, diantara sekian banyak ketidakcocokan saya dengan papa, kami sama-sama penggila MotoGP. Cuma tetap dari 2 kubu yang berbeda. Papa yang dari dulu maniak motor Honda, selalu menjagokan Dani Pedrosa. Sementara saya, apapun motornya, pembalap Italia pasti jadi idola. Kami selalu menghabiskan waktu bersama untuk nonton MotoGP, baik waktu masih tinggal serumah maupun saat ini ketika sudah tidak serumah, biasanya kami nonton MotoGP bareng saat saya lagi pulang ke Bandung.

Di hari tuanya, papa menghabiskan waktu di rumah dengan mencetak buku-buku digital untuk adik saya yang kuliah di kedokteran. Seminggu sekali papa masih suka ke kantor lamanya di Jakarta karena diperbantukan sebagai advisor di bidang kerohanian. Tapi papa udah ngga pernah lagi bawa mobil ke Jakarta. Papa selalu milih naik kereta, karena papa memiliki masalah dengan saluran kemihnya. Sehingga ngga tahan berlama-lama di jalan. Kalau di kereta, bisa ke toilet kapan pun.

Mendekati usia Nabi Muhammad SAW (yang selalu menjadi patokan papa dalam mengasumsikan jumlah umurnya), kondisi kesehatan papa terlihat mulai menurun. Pendengarannya sudah mulai berkurang, tak jarang kami harus berbicara dalam jarak yang sangat dekat atau dengan nada yang lebih keras. Permasalahan di saluran kemihnya juga tak kunjung membaik. Ini yang paling miris setiap kali saya melihat papa. Ngga tahan ngeliatnya, terlalu sedih. Tapi papa ngga pernah menunjukkan rasa sakitnya di depan anggota keluarganya.

Mama

Bagi saya, mama adalah sosok Ibu rumah tangga sekaligus wanita karir yang sangat sempurna. Saya bisa bilang, mama adalah salah satu putri terbaik yang bisa diberikan oleh Propinsi Jambi kepada Indonesia. Mama jebolan Teknik Penyehatan Lingkungan ITB angkatan 72. Mama sangat totalitas terhadap bidang yang ditekuninya, sehingga mama sering dikirim keluar negeri untuk urusan pekerjaan. Mama juga pernah menjabat sebagai Direktur Teknik di salah satu perusahaan pengelolaan limbah, dan pernah memimpin Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLHD) untuk wilayah Jakarta Pusat selama beberapa periode. Bahkan dalam masa kepemimpinan mama, Jakarta Pusat sempat beberapa kali mendapatkan piala Adipura. Mama mengakhiri karir professionalnya sebagai salah satu Kabid. di BPLHD untuk Provinsi DKI Jakarta. Satu hal yang saya banggakan dari karir profesional mama adalah, mama begitu dikenal oleh banyak orang. Bahkan ngga sedikit kolega saya di kantor yang mengenal mama (kebetulan kantor saya bergerak di bidang engineering & lingkungan).

Selain sebagai wanita pekerja, mama juga selalu menjaga komitmennya sebagai ibu rumah tangga. Mama selalu bangun paling awal, jauh sebelum para ayam siap-siap mau berkok0k. Karena kantornya yang jauh dari rumah, mama selalu berangkat sekitar jam 6 pagi. Tapi sarapan selalu sudah siap di meja sebelum mama berangkat kerja. Dulu bahkan mama nyetir mobil sendiri, cuma sejak kesibukannya bertambah, mama udah ngga kuat untuk bawa mobil sendiri, akhirnya diputuskan untuk pakai supir.

Saat bekerja pun mama selalu ingat anak-anaknya. Klo ada meeting, mama ngga pernah memakan jatah konsumsinya, selalu dibawa pulang buat anak-anaknya. Paling sering dibawain hokbenšŸ˜€. Mama selalu pulang jam 6 sore. Itu pun ngga pernah langsung istirahat. Biasanya mama hanya meluangkan waktu untuk mandi dan sholat magrib. Setelah itu kembali berkutat di dapur untuk menyiapkan makan malam. Kadang kalau mama pulang lebih malam, biasanya dia selalu menghubungi saya untuk menggantikan tugasnya menjadi ibu rumah tangga. Setelah urusan dapur selesai pun mama ngga pernah langsung istirahat, biasanya mama langsung nyetrika pakaian. Setelah itu dilanjutkan dengan membantu adik-adik saya mengerjakan PR, atau mengerjakan pekerjaan kantornya yang belum selesai. Biasanya mama baru masuk kamar sekitar jam 10-11an.

Klo urusan tabung-menabung, mama emang jagonya. Mama tahu betul bagaimana caranya menabung. Mama jago dalam urusan investasi. Sehingga di hari tuanya mama sudah mempunyai bekal yang cukup. Ngga jarang malah walau sudah ngga berpenghasilan tapi masih suka membelikan ini itu.

Ketika usia sudah senja, mama memutuskan untuk berhenti total dari karir profesionalnya. Padahal banyak tawaran untuk menjadi expert di bidang lingkungan maupun menjadi senior advisor (terutama dari kantor saya). Tapi mama memutuskan untuk totalitas menjadi ibu rumah tangga, mengurusi papa dan kedua adik saya yang masih kuliah.

Terpaut usia kurang dari 1 tahun dengan papa, kondisi fisik mama juga mulai menurun di hari tuanya. Biasanya mama sering kena penyakit tulang, ngilu sepanjang badan. Tapi hebatnya, mama adalah pembohong yang ulung, selalu bisa keliatan sehat setiap saat. Biasanya mama baru terlihat drop klo sakitnya sudah parah.

 

Demikian cerita tentang kedua orang tua saya. Memiliki 2 orang tua yang sangat luar biasa ini merupakan sebuah kehormatan besar buat saya. Walaupun belum bisa menyayangi mereka sepenuhnya, tapi sebagai anak, membahagiakan orang tua merupakan salah satu prioritas dalam hidup. Akhir kata saya ucapkan Selamat Tahun Baru untuk masbro semua. Semoga di tahun-tahun yang akan datang masbro, orang tua, serta keluarga masbro sekalian selalu diberi kesehatan dan kesejahteraan oleh Allah SWT. Bahagiakan mereka selagi masih ada kesempatan masbro. Salam.

One thought on “Cinta untuk Papa & Mama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s