Jejepangan, kejayaannya kini tinggal kenangan (Part2)

Sore masbro sekalian, lanjut lagi ya! Monggo dibaca lalu dikomentari.

Masa Jaya – Generasi II (2006-2008)

Di tahun 2006-2008 acara seperti Bunkasai sudah mulai berkurang. Ini menandakan era Jejepangan mulai memasuki masa jenuhnya. Tapi tidak dengan musiknya. Band2 pengusung lagu Jepang ini mulai meregenerasi. Nama2 seperti Melody Maker, Shuriken, Jaiko, Pinball, & X-Shibuya merupakan nama2 yang selalu dinantikan para fansnya di tengah merenggangnya intensitas event2 Jejepangan di Indonesia. Dari Bunkasai yang mencakup berbagai jenis kegiatan. Event2 Jejepangan mulai bergeser ke event yang spesifik acara musik saja. Band2 baru pun tidak kalah pesat pertumbuhannya.

Shuriken bersama para fansnya, dalam satu acara akustikan yang khusus digelar untuk fansnya yang loyal dan spartan

Disinilah DareDarou mulai mengukuhkan dirinya sebagai komunitas Jejepangan terbesar di Indonesia. Dengan merubah konsep dari komunitas pecinta band lokal yang mencover lagu2 Jepang menjadi komunitas pecinta all about Japanese stuff, member DareDarou mencapai angka ribuan dalam waktu yang relatif singkat. Selain sebagai penghubung bagi pemain band dengan para fansnya, serta wadah bagi para pecinta Japanese stuff untuk bertukar pikiran, DareDarou juga menjadi wadah untuk mengadakan promosi suatu event, serta penghubung bagi sebuah EO (Event Organiser) dengan band2 yang akan diundang.

Member DareDarou berkumpul dalam satu event Jejepangan

Di tahun2 ini pula, para band yang tadinya hanya membawakan lagu2 Jepang milik orang lain, kini mulai menapaki jenjang profesional. Tercatat Shuriken, Oracle, & Melody Maker mulai menelurkan album pertama mereka. Selain itu masih banyak lagi band2 yang mengeluarkan album/single secara indie dan mempromosikannya melalui setiap performance mereka, ataupun melalui website yang mereka buat.

Ladder to Heaven, mini album dari Shuriken

 

Masa Jenuh – Gerilya Kembali (2009-2010)

Sejak tahun 2009 dirasakan intensitas pergerakan Jejepangan di Indonesia mulai berkurang. Tidak dipungkiri, eksploitasi besar2an & kejenuhan akan kemonotonan tipe event2 yang ada perlahan membunuh era Jejepangan itu sendiri. Event2 Jejepangan di kampus2 & mall2 menurun drastis. Hal ini tentu membuat ruang gerak para pecinta Jejepangan menjadi sempit. Para band pun mulai berdarah2 dalam upaya mempertahankan eksistensinya. Tidak sedikit yang akhirnya berujung pada disbanded (tutup warung a.k.a bubar). Radio2 pun sudah tidak lagi tertarik untuk menyajikan segmen Jejepangan ini diantara ratusan acara mereka karena ratingnya yang pelan tapi pasti, terjun bebas.

Pinball, salah satu band Jejepangan yang mengusung aliran hiphop yang masih bertahan

Hal serupa tidak bisa dielakkan oleh DareDarou, dari sekian ribu member yang terdaftar, angka member yang aktif tidak lagi bisa melampaui 3 digit. Pada akhirnya, dipicu dengan konflik internal para pengurusnya, yang berujung dengan penonaktifan komunitas ini.

Drama Pincess Hours, salah satu prajurit Korean Booming yang disinyalir menggeser tahta trend kebudayaan Jepang di Indonesia

Disisi lain pasukan dari negeri Gingseng sudah mulai berdatangan. Princess Hours dan kawan2nya yang selama ini bergerilya selama invasi kebudayaan Jepang berlangsung, kini mulai berani menampakkan dirinya ke permukaan. L’Arc-en-Ciel diganti dengan Shine, Orange Range diganti  dengan Super Junior, nama Kattun tidak lagi dielu2kan karena Big Bang sudah mencuri perhatian, dan masih banyak lagi hal tentang Korea yang saat ini menjadi pusat perhatian remaja Indonesia. Sementara para pecinta Jejepangan? Tidak sedikit yang beralih berbaris di belakang pasukan Korean booming. Bagaimana dengan yang setia dan spartan? Tentunya kembali bergerilya seperti sedia kala.

Super Junior, salah satu boyband Korea yang sangat digandrungi oleh remaja Indonesia saat ini

Yup, itulah yang namanya trend, mudah sekali naik dan mudah sekali turun. Entah sampai kapan Korean booming akan bertahan, dan entah apalagi yang nanti akan melengserkannya, hanya waktu yang tahu. Yang jelas, apapun itu, silahkan diserap yang menurut masbro sekalian baik, tentunya jangan berlebihan. Mudah2an informasi ini cukup bermanfaat buat masbro sekalian. Sebagai penutup saya suguhin lagu dari X-Japan yang berjudul Endless Rain, diambil dari konser terakhir mereka sebelum sang gitaris Hideto Matsumoto terbang menuju alam bebas pada tahun 1998. Silahkan dinikmati.

Sumber: Hasil analisa & pengalaman pribadi

Gambar: Nyomot dari Mbah Gugel, FB temen, & koleksi pribadi

8 thoughts on “Jejepangan, kejayaannya kini tinggal kenangan (Part2)

  1. Am trying hard not to rant, tapi memang kesalahan terbesar ada di regenerasi dan sikap kita yang susah dewasa. I mean, di antara sesama kita aja masih ada kesulitan menerima kritik dan masukan tanpa bikin drama dan dibawa personal *uhuk*.

    Intinya adalah tahunan ini (10 tahun mungkin buat gw) nggak ngebawa kemajuan yang berarti karena kita sangat lambat belajar dan cenderung ogah mencontoh dari komunitas lain di luar sana. Sekarang entah harus gimana karena gw sendiri nggak mau ninggalin komunitas ini.

    Iya, gw akan terus gerilya sampai tua nampaknya ;P

    • me too boss, agak susah tampaknya buat meninggalkan apa2 yang udah ngisi keseharian kita semasa pendewasaan lalu. Kenal musik & budaya jepang dari jaman SMA sampe lulus S2 itu bukan waktu yg sebentar buat gw. Tapi setidaknya, walopun harus kembali bergerilya sambil menunggu waktu reborn yang entah kapan tau datengnya, harusnya para gerilyawan japanholic tetap terjaga dalam komunitas.

  2. waktu awal2 mulai masuknya jejepangan,apapun itu yg berbau jepang,dr anime,tokusatsu,j-rock,j-pop,budaya tradisional,dll..smua kayak ga ada bedanya,,merasa sama2 merasa ‘satu bendera’.. tp makin lama jd makin terkotak2,punya masa masing2 & punya idealisme masing2.. terus mulai adanya persaingan sesama ‘aliran’..

    ya wajar sih,dimana2 juga hal kaya gini terjadi..

    • Yoi brother. Sejak meregenasi itulah tampaknya fans Jejepangan mulai terkotak2. Pendapat gw sih mungkin karena masing2 fanatik sama band tertentu, so… band lain dianggapnya sebagai saingan.

  3. Pingback: Curhat sedikit soal saya dan musik Jepang « SPACE? Romantic

  4. gw mulai suka jejepangan sejak SMP (2002). waktu itu kalo ketemu orang yang suka jejepangan juga rasanya seneng banget. sekarang ketemu orang yang suka jejepangan udah biasa aja. gak ada yang spesial. event jejepangan banyak banget di Bandung, tapi gitu-gitu aja. kurang greget.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s