Jejepangan, kejayaannya kini tinggal kenangan (Part1)

Mungkin masbro sekalian banyak yang tidak familiar dengan istilah diatas. Disini saya mau menceritakan bahwa beberapa tahun lalu kita pernah mengalami era dimana segala hal yang berhubungan dengan Jepang sangat populer di antara kita. Jejepangan, begitulah kami menyebutnya. Era ini mengalami masa jayanya di tahun 2003 hingga 2007 sebelum akhirnya dilengserkan oleh Korean Booming yang masih bertahta hingga saat ini. Seperti apa sih Jejepangan itu? Yuk kita sedikit bernostalgia!

Zaman Pra-Sejarah (sebelum 1999)

Kenapa saya sebut ini sebagai zaman pra-sejarah? Karena ini adalah masa dimana kecintaan terhadap produk kultural Jepang sudah terasa, namun masih secara gerilya. Sebut saja Voltus V, Goggle V, Gavan (baca: Gaban), Lion Man, Kamen Rider Black (disini lebih dikenal dengan Ksatria Baja Hitam), atau Dash Yonkuro. Siapa sih yang ngga kenal mereka? Apalagi masbro yang umurnya udah lebih dari 1/4 abad, tentu akrab dengan nama2 yang saya sebutkan tadi. Untuk mendapatkan produk2 yang berbau nama2 diatas, susahnya bukan main. Terutama untuk film & lagu. Di era 80an akhir, klo ngga disuplai oleh TVRI, mungkin kita masih bisa mengkonsumsinya rental2 video. Tapi sejak video Beta sudah tidak populer lagi (90an), seakan2 memutus rantai makanan bagi para pecinta Jejepangan. Untungnya, di tahun 90’an ini komik Jepang mulai booming, & TV swasta mulai bermunculan.

Goggle V, tokoh superhero Jepang yang sangat fenomenal di tahun 80'an

Kungfu Boy, Doraemon, Mari-chan, & Candy-candy. Nama2 inilah yang selalu ditunggu kehadirannya di toko2 buku seperti Gramedia & di TV2 swasta. Atau komik bajakan keluaran Rajawali Graviti seperti City Hunter, Crayon, & Dragon Ball Z juga ga kalah banyak peminatnya.

Kelahiran (1999-2002)

Kelahiran dari Jejepangan ini ditandai dengan mulai membombardirnya film kartun Jepang pada tahun 1999/2000. Sebut saja Rurouni Kenshin, atau yang disini lebih dikenal dengan nama Samurai-X. Film kartun inilah yang disinyalir membuka jalan bagi invasi budaya Jepang di Indonesia. Lagu openingnya yang berjudul “Sobakasu” & endingnya “1/3 Jonjou na kanjou” mulai banyak dibawakan oleh band2 sekolah/kampus. Dari sinilah kita mulai mengenal nama2 band amatir seperti Japanese Heroes, Kenichi, dan Cartoon Heroes yang selalu membawakan lagu2 Jepang di setiap event2 underground.

Tidak hanya itu, majalah2 yang khusus membahas masalah Jejepangan seperti Animonster, Anima, dll juga mulai bermunculan. Dan di tahun2 ini pula kemunculan IndieJap, komunitas pecinta musik Jepang di Indonesia, dan Wasaba, sebuah komunitas pecinta cover band Jepang bernama Wasabi, yang merupakan cikal bakal dari sebuah komunitas Jejepangan terbesar di Indonesia.

Member Wasaba di salah satu acara Bunkasai

Masa Jaya – Generasi I (2003-2005)

Masa jaya yang dimulai sejak tahun 2003 ditandai dengan mulai banyaknya gelaran acara Bunkasai (pesta kebudayaan Jepang), entah itu di kampus, sekolah, mall, kedutaan Jepang, bahkan sampai ke hotel. Diantaranya yang terkenal seperti “Gelar Jepang“nya UI, “Japan Fair“nya Unsada, dan “Nippon Club Bunkasai“nya Binus, ketiga kampus ini tidak pernah absen mengadakan acara Bunkasai setiap tahunnya. Adapula acara milik majalah Animonster yang sering diadakan di mall2, ataupun acara2 pentas seni (pensi) yang diadakan di sekolah2, selalu disisipi dengan kebudayaan Jepang di tahun2 ini.

Gelar Jepang UI

Salah satu ciri yang paling terkenal dari era Jejepangan ini adalah banyaknya band2 amatir yang muncul ke permukaan hingga memiliki fansnya tersendiri. Di Jakarta, nama2 seperti Jetto, Onizuka, Wasabi, Zeal, Kyuuto, Baka!, dan Japanese Rock Star (yang sekarang terkenal dengan nama J-Rocks), selalu punya massanya sendiri di setiap penampilannya di acara2 Jejepangan. Mereka dengan fasihnya membawakan lagu2 dari band2 Jepang yang ngetop pada saat itu seperti L’Arc-en-Ciel, Judy & Mary, Luna Sea, Dir en Grey, Malice Mizer, Siam Shade, dll. Di Bandung pun sama hebohnya, nama2 seperti Lastifer dan Shiroi Hana pun juga tidak kalah digandrunginya oleh anak2 muda kota parahyangan ini.

L'Arc-en-Ciel atau Laruku. Salah satu band rock Jepang yang sangat diidolakan

Untuk mendapatkan pernak-pernik Jejepangan, di tahun-tahun ini lah masa keemasannya. Selain bisa kita temui di stand2 bazaar yang selalu diadakan di setiap acara Bunkasai, toko2 khusus pernak-pernik Jepang seperti Japan Hobby, Gonzo, & Anime Machi juga tidak pernah sepi pengunjung. Mulai dari action figure, poster, kostum, gantungan kunci, hingga CD lagu Jepang baik itu yang bajakan ataupun yang original. Perusahaan musik juga mulai berani menerbitkan album artis2 Jepang di Indonesia. Diantaranya seperti Utada Hikaru, L’Arc-en-Ciel, Luna Sea, Glay, Le Couple, Kyoko Fukada, X-Japan, Orange Range, Ayumi Hamasaki, dll.

Nama komunitas juga mulai diperhitungkan. Salah satunya adalah DareDarou, ekspansi dari Wasaba ini mulai banyak dikenal di kalangan remaja. Seakan tidak mau kalah, bahkan stasiun radio pun ikut2an terkena dampak Jejepangan ini. Seperti yang cukup terkenal adalah Iro2, acara milik MTV Radio.

Cosplay, kegiatan berdandan dan menirukan gaya tokoh2 Jepang (umumnya kartun), juga merupakan acara yang selalu ada di setiap Bunkasai. Hingga melahirkan tokoh2 cosplay yang cukup terkenal seperti Orochi & Pinky Lu Xun dari tim cosplay Endiru. Dan yang tak pernah boleh ketinggalan, Bon Odori (tari tradisional Jepang) serta hanabi (pesta kembang api) juga selalu ditunggu2 kehadirannya di setiap penutupan acara Bunkasai.

Tim cosplay Endiru yang penampilannya selalu memukau

Wah… ga terasa panjang juga tulisan saya kali ini. Segini dulu ya masbro sekalian. Nanti saya lanjutin lagi. Sebagai penutup, saya suguhin salah satu lagu Jepang yang pada masa kelahiran tend Jejepangan sangat banyak diminati, khususnya oleh remaja ibukota. Silahkan dinikmati.

Sumber: Hasil analisa & pengalaman pribadi

Gambar & video: Youtube.com, Megaxus, traxiroiro.blogspot.com, cokyfauzialfi.wordpress.com, kisahanakpenyu.blogspot.com, makiefunandfun.wordpress.com. dan koleksi pribadi.

7 thoughts on “Jejepangan, kejayaannya kini tinggal kenangan (Part1)

    • yang gw takutin sih bukan dikeroyok sama orang2 yang mukanya terpampang di foto itu, tapi gw takut diamuk sama orang yang sensi ketika gw nyebutin nama ‘Lastifer’. Wkwkwkwkwk…. KABOOOOOOOORRR….

  1. Kalo dulu blm ada youtube, koneksi internet jg ga semudah sekarang, untuk mendapatkan cd lagu, vcd konser harus perjuangan dulu (walau bajakan), nabung dulu, terus beli di KENOP (masih ada ga ya ini toko?). Begitu ada temen yang sehobi, biasanya suka tuker2an saling ngopi cd/vcd. Kalo ada rilisan live baru, rasanya excited banget (kaya waktu comebacknya Laruku di shibuya 7 days), rasanya ingin cepat2 dapet VCDnya (kalo sekarang, tinggal buka yutub aj, konser reuni Luna Sea bulan desember kemarin aj udah nongol tuh, lengkap!).
    Jadi, yang gw liat, penggemar jejepangan yang dulu lebih punya kerinduan akan apa yang mereka gemari, dan itu tumpah semua dalam event jejepangan. Buat yg gemar musik kaya gw, akan sangat menantikan band2 cover naik panggung dan penasaran bakal sebagus apa sih mereka ngebawain ulang lagu2 favorit gw, hehehe

  2. Pingback: Curhat sedikit soal saya dan musik Jepang « SPACE? Romantic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s