Pro/Kontra hari Valentine? Haruskah terjadi?

Assalamualaikum Wr. Wb. Masbro sekalian.

Mohon maaf sebelumnya kalau tulisan saya kali ini mungkin agak berbau SARA. Mumpung masih hangat (masih bulan Februari), kali ini saya mau berbagi pendapat tentang hari kasih sayang atau yang lebih dikenal sebagai hari Valentine. Selintas teringat pesan salah seorang teman beberapa waktu lalu di status FBnya yang kurang lebih begini, “Hari Valentine bukan milik kita”.

Sejak dulu, terutama di Indonesia, selalu ada pro-kontra mengenai hari2 perayaan tertentu yang sifatnya non-formal, tapi cenderung berakar/memihak ke suatu kepercayaan tertentu. Seperti April Mop yang diiringi dengan segudang cerita negatif dibelakangnya. Sikap fanatisme berlebihan, & semangat kedaerahan (mengutamakan kepentingan golongan) sudah bukan hal yang aneh lagi di bumi pertiwi kita ini. Bahkan jauh sejak sebelum masa kemerdekaan dulu.

Balik lagi ke hari Valentine, sebagai seorang pribadi, terlepas dari apapun agama saya, saya menanggapi hal ini dengan sangat netral. Saya sendiri tidak pernah merayakannya secara khusus, hanya mungkin pada hari tersebut saya merasa ingin meluangkan waktu/berbagi lebih dengan orang yang saya sayangi. Bagi saya, hari Valentine bukanlah hari keagamaan. Jadi buat apa bersikap antipati? Toh tujuannya baik kok, untuk lebih menunjukkan rasa sayang secara simbolik. Sama seperti hari Ibu atau hari Ayah. Memang betul setiap hari kita pasti menyayangi mereka. Tapi pasti dong ada satu hari tertentu dimana kita ingin mengungkapkan/menunjukkan rasa sayang lebih kepada mereka secara simbolik? Selain pada saat hari ulang tahun atau hari ulang tahun perkawinan mereka. Salah? Sama sekali tidak.

Pernah dalam suatu diskusi agama dengan salah seorang yang paling saya banggakan, saya sampaikan begini, “Bukan berarti dengan memiliki agama yang kita anggap paling benar, serta merta menjadikan kita orang yang paling benar“. Artinya, akan selalu ada proses yang harus kita lewati untuk menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Terlepas dari apapun agamanya. Sikap antipati merupakan 1 step backward bagi proses pengembangan diri untuk jadi pribadi yang lebih baik.

Kesimpulannya, menurut saya memeriahkan hari Valentine itu sah2 saja. Terlepas dari apapun agamanya. Selama tujuannya baik & tidak berlebihan. Toh tidak akan ada yang dirugikan. Yang tidak boleh itu menjadikannya sebagai keharusan, hingga merayakannya secara berlebihan (biasanya ABG, yang dirugikan pasti orang tuanya), ataupun sikap antipati yang disebabkan oleh fanatisme berlebih. Cukup disikapi dengan bijak, tentu akan memperindah suasana di tengah makin menipisnya toleransi antar umat beragama. Damai itu indah masbro. Betul ngga? Akur dong! Monggo, silahkan dikomentari.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Gambar: nyomot sana-sini lewat mbah gugel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s